by : Sjifa Amori
Perlu ada kompensasi kebijakan yang mendukung perkembangan budaya Betawi
Ketika Clay Aiken, penyanyi favorit American Idol yang popular itu diundang untuk show di kota megapolitan New York, ia merasa ketakutan. Katanya, kota besar yang plural macam itu membuatnya merasa sendirian. “Ini adalah kota asing. Semua orang seperti tak mengenal siapapun. Saya kesepian,” tuturnya. Apa yang dirasakan Aiken ini sering juga menerpa pendatang di kota metropolitan. Di mana karakter urbanisasi sudah sedemikian mengakarnya. Termasuk pula di Jakarta tercinta.
Menurut psikiater FK UI-RSCM, dr Suryo Dharmono, SpKJ (K), budaya urban adalah budaya transisional. Yaitu budaya yang berkembang terburu-buru dan sifatnya labil. Jadi, tak ada pegangan. Wajarlah kalau pertemuan berbagai budaya membuat pendatang merasa tidak berada pada safe area. Yang gawat adalah kalau penduduk asli di kota metropolitan tersebut juga merasa asing di tanahnya sendiri. Jakarte kayak bukan tanah abang lagi.
Anthropolog Universitas Indonesia, Dr Yasmin Zaki Shahab MA, melihat gejala itu sebagai dampak globalisasi. Tingkat internasionalisasi di Jakarta dibanding kota besar lainnya adalah yang tertinggi. Sehingga masyarakat Betawi mengalami beban persaingan lebih berat. “Kalau masyarakat etnis lain tetap dominan di kampungnya, tidak begitu halnya dengan masyarakat Betawi. Orang Minangkabau kan jelas kampung halamannya di Sumatera Barat dan orang Batak di Sumatera Utara. Di sana, adat istiadat dan budaya mereka dominan dalam setiap aspek kehidupan. Nggak perlu bersaing dengan beragam warna nasional. Jadi nggak terlalu banyak yang berubah. Sangat beda dengan Betawi yang selama setengah abad dikonfrontir dengan arus globalisasi dan urbanisasi.”
Perkembangan Jakarta
Memaknai globalisasi sebagai peningkatan hubungan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia seluruh dunia melalui berbagai proses, termasuk perdagangan dan investasi, terlihat jelas bahwa kebijakan pemerintah berperan besar dalam proses ini. Akibatnya, kepentingan Jakarta, sebagai ibu kota, banyak berlawanan dengan kepentingan penduduk aslinya, masyarakat Betawi. Oleh pemerintah, kepentingan Jakarta sering diartikan sebagai kepentingan umum kota metropolitan yang plural. Atau kepentingan masyarakat yang dominan.
“Kota Jakarta yang diwarnai dengan keragaman nasional dan internasional membuat masyarakat Betawi cuma jadi bagian kecil. Hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh orang yang memang hidup di dalam lingkup itu,” kata Yasmin. Meski hanya sebagian kecil, menurut dia, warna Betawi masih dominan. Karena dominan itu tak selalu ditentukan jumlah penduduk mayoritas saja. Tapi bisa juga kualitas. “Betawi jelas diakui sebagai warna original Jakarta. Suku indigenous di Jakarta. Secara resmi dan formal, dalam hal ini Pemda, juga mengangkat kebetawian dalam setiap event Kejakartaan.”
Namun Sekretaris Jenderal Badan Musyawarah (Bamus) Masyarakat Betawi Dr H Sibroh Malisi tak merasa dominasi warna cukup untuk menjadikan Jakarta sebagai kota wisata berbudaya (Betawi). Artinya, Betawi jangan sampai hanya jadi simbol acara-acara seremonial. Sebut saja rutinitas Pemilihan Abang-None Jakarte yang sampai saat ini alumninya wara wiri di layar kaca. “Seharusnya mereka menjadi agen perubahan budaya. Menjembatani masyarakat yang tadinya tidak mengerti sampai memahami betul masalah kebetawian.”
Makanya Sibroh merasa muatan positif acara semacam ini belum mencitakan out put yang diharapkan. Betawi butuh lebih dari itu.
“Kebijakan pemerintah selalu berpihak pada yang umum sehingga tanah-tanah milik masyarakat dibeli dengan harga agak tinggi untuk kepentingan negara. Mau tak mau harus hijrah dong. Tapi kenapa tidak ada kepedulian dalam bentuk kompensasi layak? Misalnya menyediakan lapangan pekerjaan dan tempat usaha, serta akses sosial budaya memadai. Itu yang kita tunggu,” kata Sibroh mengeluhkan ketiadaan Gedung Kesenian Betawi hingga saat ini.
Cochrane dan Dr Kathryn Pain dalam buku “A Globalizing Society?” in A Globalizing World? Culture, Economics, Politics, mengungkapkan bahwa para globalis percaya negara dan kebudayaan akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. Termasuk globalisasi perekonomian tenaga kerja di mana perusahaan asing global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya. Akibatnya, anak Betawi asli macam Doel mesti berebut lapangan kerja di tanahnya sendiri. Tak jarang yang akhirnya menambah angka pengangguran. Padahal bukannya “nggak” makan sekolahan.
Hidup sejahtera
Ironisnya, dampak “pengorbanan” untuk kepentingan kaum metropolis dan globalis ini malah membuat masyarakat Betawi dikira pemalas dan nggak pro pendidikan. “Stigma negatif bahwa anak Betawi nggak sekolah harus dihilangkan. Kita yang ‘jadi orang’ sekarang kan karena sejak dulu sekolah. Kalau orang Betawi sekarang anaknya 6, rata-rata sekolah SMA dan bahkan sarjana semua. Cuma memang saya melihat kurang ada kebersamaan dari masyarakat sendiri. Misalnya, banyak kok orang Betawi yang sukses. Secara materi dia lebih dari cukup dan yang harta non fisiknya juga. Tapi memang sudah etika masyarakat tidak mau mempublikasikan diri. Yang penting menjalani hidup sejahtera, aman, bahagia. Meski mereka panutan buat kita, tapi media nggak tahu. Dikira orang Betawi jarang yang berhasil.”
Sebut saja pendekar legandaris Pitung. Itu hanyalah salah satu nama popular dari tokoh pendekar Betawi yang jumlahnya banyak dan dihormati. Dalam situs Silat Betawi, penulis Yanweka, mengungkapkan bahwa silat betawi dikenal dengan nama daerahnya seperti silat Kemayoran, silat Tanah Abang , silat Rawabelong dan banyak lagi. Ini menunjukkan bahwa zaman dulu, di setiap kampung Betawi pasti ada jagoan. Selain menjaga kampung, mereka juga disegani karena tingkah lakunya yang terpuji. Pesilat atau jago “maen pukulan” ini menggunakan ilmu beladiri untuk perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak manusia ke jalan yang benar dan menjauhi kezaliman). Menurut H. Irwan Sjafi’e, ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), keberadaan mereka sangat di hormati dan hubungan dengan alim ulama pun sangat erat, sehingga jagoan dan alim ulama menjadi orang yang terhormat di dalam masyarakat Betawi.
Alim ulama dalam masyarakat Betawi bisa dibilang masih menjadi orang yang selalu disegani. “Banyak tokoh Betawi terkemuka dalam sektor politik, ekonomi, sosial. Tapi yang paling tinggi kharismanya adalah tokoh agama. Karena agama sangat penting dalam kehidupan orang Betawi dan karena agama menempati level berbeda dari sector lainnya dalam kehidupan manusia pada umumnya. Tokoh agama lebih universal,” ujar Yasmin.
Lalu bagaimana dengan “jagoan” politik Mohammad Husni Thamrin yang banyak berjasa pada penataan kota Jakarta di masa lalu demi Kemaslahatan orang banyak. Atau “jagoan” kebudayaan Benyamin S yang membuka mata rakyat Indonesia pada kebudayaan asli Betawi yang lentur, ceria, dan hangat. Adakah penerus-penerusnya?
“Sah-sah saja kalau pimpinan Jakarta sekarang punya strategi khusus. Tapi yang paling penting setiap orang yang punya peranan besar di Jakarta, baik orang Betawi maupun bukan, mesti punya kepedulian tinggi pada masyarakat dan lingkungannya. Bahasa Minangnya, di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” ujar pria yang tetap concern pada perkembangan perkampungan budaya Betawi Setu Babakan meski sibuk dalam keprofesiannya dalam proyek bersama dokter spesialis di klinik yang dipimpinnya di Jagakarsa.
Sejajar dengan kota lain
Kalau pimpinan Jakarta punya etos ini, sudah pasti konsep kota seperti yang dirancang Husni Thamrin akan diteruskan. “Apalagi Jakarta juga jadi trademarknya Bang Fauzi sebagai kota wisata yang sejajar dengan kota-kota lain.”
Bamus sendiri lebih banyak bergiat di koridor kebudayaan. Khususnya mengusahakan agar tercipta kondisi kota Jakarta sebagai kota pariwisata yang berbudaya. Selain juga aktif mengupayakan agar masayarakat Betawi bisa berdaya efektif, khususnya dalam hal pekerjaan. “Kami ingin menciptakan masyarakat bermanfaat. Yang kami siapkan termasuk juga SDM dan perangkat-perangkat lainnya. Kami sedang fokus juga mendorong budaya Betawi masuk ke tingkat lokal dan nasional.”
Usaha Bamus adalah melalui DPRD dan eksekutif bersama para seniman. Karena tak mungkin bergerak sendiri.
“Kalau para pimpinan memandang ini sebagai warisan kekayaan dan sumber ilmu yang harus dipeliharan, ya mesti ada strategi supaya itu benar jadi milik kita dan nggak menyesal setelah nanti diklaim orang. Tapi kalau tidak terencana untuk mengembangkannya, dia akan hilang karena kalah bersaing. Lalu tiba-tiba kita kaget karena baru menyadari telah kehilangan sesuatu yang berarti,” kata Yasmin mengakui sulitnya perjuangan masyarakat Betawi ini. “Karena pasti akan lebih banyak rugi daripada pemasukannya. Padahal sih kalau sudah ditangani dengan proporsional, sesungguhnya budaya Betawi punya nilai ekonomis tinggi.”
Source : Koran Jurnal Nasional
