Tulisan ini saya buat tahun 2001, cerita tentang pendakian ke gunung ciremai jabar, Hujan adalah sahabat paling setia dalam pendakian tersebut, memang kami dibuatnya membiru. ada cerita kecil di dalam sana.
Ciremai dalam kabut biru
Pada tanggal 2- 5 Januari 2001 Kami dari team Gappala14 dan padjadjaran nasional Jakarta melakukan pendakian ke G.Ciremai yang terletak di wilayah Kuningan Jawa-Barat. G.Ciremai memiliki kekhasan tersediri dibandingkan dengan gunung2 lainnya, selain itu G. Ciremai merupakan Gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3078 mdpl dengan medan yang sangat menantang untuk kita daki. Pejalanan Menuju Cirebon Untuk menuju ke G. Ciremei, perjalan dapat kita mulai dari terminal Pulo Gadung Jakarta timur, di terminal tsb cukup tersedia angkutan menuju cirebon atau kuningan atau kita bisa naik bus Luragung jaya yang memang sudah cukup dikenal. Perjalanan menuju Cirebon cukup mengasikkan juga karena kita melawati jalan tol Cikampek dan jalan pantura kira2 4-5 jam kita sampai di terminal cirebon. sesampainya di terminal cirebon kita lanjukan lagi dengan naik angkot atau bus mini jurusan Kuningan dan turun di pertigaan Cilimus. dari cilimus kami dapat melanjutkan lagi ke desa Linggarjati berjarak sekitar 4-5 km dari cilimus, dengan berjalan kaki atau dapat pula dengan menyewa angkot atau ojek.
Linggar Jati kami akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati sejuknya udara dan pemandangan yng tersaji di hadapan kami yaitu G. ciremai yg menjulang tinggi. Selama perjalanan, kami melewati jalan aspal yng cukup halus dan lebar dan juga melewati taman wisata Linggarjati yang berudara sejuk karena tepat di bawah kaki gunung Ciremai. setelah melewati taman wisata linggarjati kami melewati kembali gedung Naskah linggar jati yg tepatnya gerdung tsb menjadi tempat bersejarah antara Indonesia – belanda yaitu perjanjian Linggarjati. Tidak lama melewati gedung naskah linggar jati kita dapat mendaftarkan diri pada petugas PPGC atau Pengelola Pendakian Gunung Ciremai dengan mencatat nama dan alamat untuk keleperluan administrasi dan perlindungan asuransi wana artha. Posko PPGC Linggar Jati Pos PPGC tsb merupakan rumah dari pak ahmad yaitu seorang juru kunci Gunung Ciremai yang saat ini telah berusia dan dahulu sebelum berdirinya PPGC banyak pendaki yang mampir untuk melaporkan diri di rumah tersebut. Dengan adanya PPGC kita harapkan untuk mendaki G. Ciremai semakin baik terutama dari segi keselamatan dan kita harapkan juga petugas disana perduli dan aktif terhadap pendaki2 yang memang notebone berasal dari tempat yg jauh seperti jakarta, bandung, surabaya dll. Setelah melapor pada petugas PPGC di Pos Pendaftaran, perjalanan kami lanjutkan menuju Cibunar kira2 1/2 jam perjalanan sampai disana dimana di sana terdapat lokasi kemping yang cukup baik untuk beristirahat bila kita lelah setelah ataupun sebelum mendaki Puncak Ciremai. Bila Cuaca baik dan kondisi memungkinkan akhirnya kami melanjutkan perjalan menuju punggungan gunung yang ditumbuhi oleh pohon pinus yang lebat dengan jalan setapak yang bisa dibilang agak mudah walau terkadang menanjak tapi bonusnya masih agak banyak sehingga nafas tidak terlalu terengah-enggah. Melewati pohon pinus kami mulai memasuki hutan dengan pohon yang tinggi dan agak rapat dan dari kejauhan nampak pemandangan dibawah kami yaitu sawah, rumah penduduk dan ladang dan saat ini barulah jalan mulai menampakkan keasliannya yaitu menanjak dan hanya ada tanjakan-tanjakan di hadapan kita pokoknya seru dech.
Selain itu saat ini di Gunung Ciremai memiliki Pos untuk beristirahat dan telah diberi nama antara lain Pos Cibunar, Pos Pinus, Pos Condang Amis, Pos Kuburan Kuda, Pos Ceblokan, Pos Pengalap, POs Tanjakan BinBin, Pos Tanjakan Seruni, Pos Baba Tere, Pos Batu Lingga, Pos Sanga Buana1, Pos Sanga buana 2 dan Pengasinan, Pada pos2 tersebut kita bisa mendidrikan tenda bila terpaksa harus bermalam ditempat tersebut. Jangan lupa untuk membawa persediaan Air karena sangat jarang ditemukan mata air, sehingga mau-tidak mau kita harus bersiap-siap membawa air dari bawah kalau perlu, takut-takut diatas nanti air benar2 tidak ada. Dan juga jangan terlalu membawa bawaan yang berlebihan kalau perlu sesuatu yg vital untuk kita, sehingga perjalan kita dapat lebih cepat dan tidak terhambat oleh bawaan yang berat, dan juga keril yg kita bawa juga jangan terlalu tinggi ukuran standar adalah batas kepala kita kalau tidak rasakan sendiri dech…kalau ada pohon yg tumbang atau apa saja yg menyangkut dikeril tsb.
Data Pengirim :Yanweka Date:11/11/2001
http://www27.brinkster.com/gappala/lihatjelajah.asp?no=3
