Kalau kita mendaki gunung gede masalah sampahnya bikin masalah, krnsebagain pendaki masih aga cuek untuk membuang sampahnya disana, but ini bukan masalah yang serius banget kok.
Sampah di Gunung Gede….!!!!
Oleh : Yan
Pernah mendaki Gunung Gede Pangrango..?, PAsti bagi PA di sekitar Jakarta, bandung, & sekitarnya pasti pernah. Gimana Kotornya kandang badak, Gimana Joroknya Mata Air di Lembah Surya Kencana..!!, Lalu apa yang bisa di lakukan Oleh Para PA yang mengaku Pencinta Alam tapi jauh dari Kenyataan. Ada KOmentar …?
Email : Yan Date : Saturday, February 16, 2002
RE :Sampah di Gunung Gede.
Oleh : Untung
Iya…!!! saya pernah ke sana, Tapi dulu Waktu Masih Kuliah. Waktu itu Gunung Gede merupakan Gunung Favorit Anak2 jkt. dan kondisinya masih Bagus. Tapi sekarang memang banyak sampahnya, apalagi sekitar bulan lalu aku mendaki waduh beda2 banget sama waktu aku mendaki dulu. Aneh yach…Kita ini Pencinta Alam atau Bukan Pencinta Alam sih ![]()
Email : Untung Date : Saturday, February 16, 2002
Oleh : Tetra
Gn.Gede atau mungkin gunung lainnya memang gak pernah lepas dari masalah sampah…..tapi kita emang gak bisa buat terlalu banyak….. tapi paling enggak kita bisa mulai dengan kesadaran diri sendiri…. kalo gak bisa cegah yah jgn nambah yah….. seorang Pecinta Alam tau kok jgn pernah nyerah sama keadaan….
Email : Tetra Date : Tuesday, February 19, 2002
Oleh : Beny Alfon
Benar juga kata Tetra, jangan putus asa. Sebab Untuk menjadi pencinta alam sejati butuh proses yang panjang. tapi masalah sampah di Gunung gede emang aneh yach
Email : Beny Alfon Date : Wednesday, February 20, 2002
Oleh : kamil
Sampah sih dimana2, hampir disemua gunung, cuma kadang kala di G, Gede Terlalu ketat, MIsalnya aja mau di bakar sampahnya eeh nggak boleh, coba dech kalo di G.Lawu..?? sah2 aja, lagian kalo di bawa turu khan sampah botol, kertas dan plastik khan bisa dibakar ya khan !!!
Email : kamil Date : Friday, February 22, 2002
Oleh : Dwipo
Nggak mungkin saat ini gimana nggak !!! Gunung Gede Peraturannya Semakin Buanyaaaak !!! sampe susah ngikutin peraturannya dari pada mendakinya
Email : Dwipo Date : Friday, April 19, 2002
Oleh : Dwipo
Nggak mungkin saat ini gimana nggak !!! Gunung Gede Peraturannya Semakin Buanyaaaak !!! sampe susah ngikutin peraturannya dari pada mendakinya
Email : Dwipo Date : Friday, April 19, 2002
Oleh : heru gunawan IAA
Emang yang namanya sampah gak akan jauh dari kehidupan umat manusia, tapi sampah akan menjadi bermanfaat tergantung bagaimana kita mengelola sampah tersebut, makanya sering2lah kelompok yang mengaku PA dalam hal ini Pecinta Alam sering mengadakan Operasi Semut disekitar Gn. Gede-Pangrango Kalo gak mau disebut Perusak Alam bawalah kembali sampah kalian ……..semua yang ngaku2 Pecinta ALam dan ingat setiap kali kita mendaki gunung sedikitnya kita sudah menyumbang sampah barang sedikit karena antara sadar dan tidak banyak yg meremehkan hal yg kecil seperti bungkus permen biasanya para PA suka membuang sembarang karena mungkin dianggap kecil ….. itu yang sering gue liat dari temen2 pendaki
Email : heru gunawan IAA Date : Tuesday, May 21, 2002
Oleh : dhenie
yach seharus nya kita sesama PA saling mendukung dan menjaga donk kelestarian gn gede gwe sendiri ngerasa malu ..klo emang lo pade pada ngerasa PA lo mesti bisa jaga donk arti PA itu.. loe pade mestinya sadar bukan hanya kita atau yg lain yg salah tapi kesadaran kita sendiri buat jaga tuch alam klo loe” pade sadar ama alam lo jangan pada buang sampah sembarangan donk.. lo mesti pegang tuch janji anak” PA ..klo bisa setiap lo liat sampah di daerah gede lo mesti punya inisiatif sendir buat buang tuch sampah.. kayak nya dari gwe cuma segitu ..klo ada yg salah plus ada kata” yg kurang enak maafin yach… from RASTAPALA
Email : dhenie Date : Tuesday, June 11, 2002
Oleh : Pingkan
sejak saya pertama kali mendaki di Gunung Gede pada awal awal tahun 1970 an, sudah banyak sampah disini tuh,cuma memang mungkin tidak sebanyak sekarang,terakhir saya daki gunung ini sekitar tahun 1985 sudah makin parah,nggak tahu kalau tahun-tahun belakangan ini apa makin parah??,mohon informasi
Email : Pingkan Date : Tuesday, June 25, 2002
Oleh : elmo@gunung.org
Saya pernah kesana tahun 1980 dan terakhir adalah Desember 2001 lalu. Saya berpendapat masalah sampah telah lebih baik sekarang ini. Pendaki telah ada yang mulai membawa kembali sampah dan tidak membakarnya secara serampangan. Operasi Bersih sering terlihat. Hutan masih seperti 20 tahun yang lalu. Secara pribadi saya mengharap seluruh hutan di Indonesia dapat dipelihara seperti kawasan Gede Pangrango. Salam.
Email : elmo@gunung.org Date : Sunday, July 07, 2002
Oleh : MONIQUE
WHEN I WENT TO “GUNUNG GEDE” AT 2000 I THINK THE VIEW IS PREETY GOOD.BUT THE PROBLEM IS TOO MUCH GARBAGE THERE.SO, I HOPE IF I VISIT IT SOMEDAY IT BECOME BETTER.
Email : MONIQUE Date : Monday, July 15, 2002
Oleh : abat
sampah di gunung gede emang jadi permasalahan tersendiri yang gw liat dari taun ketaun emang gak pernah ada abisnya…wajar, sebab jumlah pengunjung ke gunung gede emang udah terlalu banyak sampe – sampe harus dibatasi hanya 500 orang untuk pendakian dan para pengunjung juga masih kurang sadar arti kebersihan. Gak wajarnya, kalo yang nyampah itu ternyata seorang/ kelompok pendaki/PA yang udah malang melintang di beberapa gunung lain entah di dalam ataupun di luar negeri yang seharusnya menjadi contoh buat pengunjung lain. gw rasa gak salah kalo kita naek dan tiap turun selalu bawa sampah, entah itu sampah kita sendiri atau turun sambil mungutin sampah….kayakna kalo setiap pendaki punya kepedulian kayak gitu..hm, TNGP bersih dech… kalo sampah dibakar diatas, gw rasa kita harus ngerti kenapa itu gak boleh….pihak TNGP pasti berusaha keras buat jaga TNGP supaya terhindar dari kebakaran hutan.
Email : abat Date : Wednesday, August 07, 2002
Oleh : Budi Mulyana
Sampah… masalah klasik yang setiap hari harus kita hadapi. Taman Nasional Gede-Pangrango, kawasan konservasi dan pariwisata yang menjadi pavorite pendaki ataupun wisatawan adalah gudang sampah. Sebenarnya pihak TNGP dan juga Volunter di TNGP seperti MONTANA (Cibodas), GPO (Putri), PANTHERA (Pondok Halimun) yang merupakan sukarewan terus bahu membahu untuk membersihkan TNGP dari kawasan sampah. Namun usaha itu tak akan berjalan dengan baik tanpa turut serta masyarakat dan juga pendaki itu sendiri. Padahal Para sukarelawan telah mencoba untuk melakukannya. Selain opsih juga memberikan pengarahan kepada para pendaki maupun pengunjung TNGP untuk menjaga kebersihan. Namun hal itu sia-sia dikarenakan kepedulian para pendaki terhadap lingkungan sangatlah minim. Ini bisa dilihat pada saat para sukarelawan jaga di TNGP.
Email : Budi Mulyana Date : Saturday, August 31, 2002
Oleh : Eka Kurniawan
Sampah yang ada di TNGP, saya rasa bakalan susah diatasi. gimana engga kalo setiap kali kita ngadain “bersih gunung” trus kurangnya kesadaran kita semua sebagai anak pencinta alam buat jaga alam yang ada. so kalo bisa sich kita sadar dech,gimana bisa nyaman kita daki kalo sekeliling kita banyak sampah. tapi saya percaya kalo yang masuk di diskusi ini pada “Sadar Ala”. ok…
Email : Eka Kurniawan Date : Saturday, October 12, 2002
Oleh : Budi Mulyana
Betul sekali… Sampah akan bisa kita kurangi bila ada kesadaran dari diri kita sendiri untuk mencintai lingkungan. Dalam arti kita tidak mesti selalu opsih di gunung atau hutan, kita biasakan hidup bersih di lingkungan kita sendiri. Tidak membuang sampah sembarangan di jalan, di kantor, disekolah taupun dimana saja. Bila kita sudah bisa membiasakan diri untuk tidak menyampah, insya Allah yang namanya sampah bisa kita kurangi. wassalam,
Email : Budi Mulyana Date : Tuesday, November 12, 2002
Oleh : umbie
denger-2 akhir taon kemaren itu gn. gede ama ditutup untuk pendakian khusus untuk ngebersihin sampahnya, terus gimana hasilnya??? waktu ke sana pas natal taon kemaren itu, emang bener yang namanya kandang badak itu persis tempat sampah.. ngagetin banget, karena aku pikir (n terus terang, it was my first mount climbing) aku pikir yang namanya PA itu bener-bener pencinta alam.. tapi nyatanya pas aku bawa sampah yang aku, yang ada aku diketawain orang disekeliling.. gimana neh?
Email : umbie Date : Friday, November 29, 2002
Oleh : Budi Mulyana
Itulah ironisnya. Makna pecinta alam sudah bergesar dari arti sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendakian dan penaklukan alam. Hal yang sebenarnya sedikir banyak ikut merusak alam. Jarang sekali ada klub pecinta alam yang mempunyai visi dan misi bagi pelestarian alam. Maka dari itu kerusakan alam secara langsung maupun tidak langsung kita ikut didalamnya. Semoga dengan berlalunya waktu, akan membuat kita sadar betapa berartinya alam ini bagi umat manusia. Semoga…
Email : Budi Mulyana Date : Sunday, December 01, 2002
Pemulihan Ekosistem di TNGP
Oleh : hijjau
Info buat rekan-rekan pendaki : Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) mempunyai agenda dalam pemeliharaan lingkungan. Salah satu diantaranya adalam Pemulihan Ekosistem, yang mana biasanya diberlakukan mulai Januari sampai Maret. Pada saat diperlakukan hal tersebut, TNGP menutup pendakian. Tapi untuk rekreasi ke Curug atau Telaga Biru masih diperbolehkan. Pada saat Pemulihan Ekosistem, pihak Jagawana (TNGP) dan volunteer/sukarelawan TNGP melakukan opsih secara terarur untuk meminimalkan sampah dan meminimalkan kerusakan alamnya. Tidak tertutup kemungkinan dalam melakukan opsih ini mengikut sertakan pihak-pihak luar dengan syarat harus mengikuti semua prosedur yang dibuat jagawana ataupun volunteer. Bagi rekan-rekan yang tertarik, bisa saja bergabung disana. Silahkan datang ke Sekretariat MONTANA atau jagawana di cibodas
Email : hijjau Date : Thursday, January 09, 2003
Pemulihan Ekosistem di TNGP
Oleh : Ujang Tamara
Kayanya metode libur TNGP selama 3 bulan, tidak berpengaruh dengan ekosistim yg ada. Saya pikir pengelolanya sudah kehilangan akal untuk menyiasati masalah Sampah. Mungkin inilah satu-satunya TNGP didunia yg libur hanya karena urusan sampah. Saya rasa perlu diperdalam pola pikir penyelesaian sampah ini. Kesadaran pribadi itu dibentuk oleh suatu system yg jalan(aturan,adat atau kebiasaan). Jangan ngarapin orang lain bisa berbuat sama dengan kita sendiri. Aturan harus dibuat, dan pengawasan harus dijalankan. Masa pengawasan Edelwise bisa, tapi sampah tidak bisa. Saran saya buat pengelola TNGP; saat pemberangkatan barang-2 bawaan didaftar, dan saat turun sampah juga harus diminta sesuai dengan daftar yg ada. Nah, disini perlu ada pengawasan. Juga kalau berangkat jamnya diatur, pendaki dikumpulkan dahulu, dan diberikan masukan (film) mengenai ekositem (sampah dllnya). Jadi para pendaki juga tambah wawasannya. Perlu ada komunikasi antara pengelola dan juga pendaki. Ini yg perlu digalangkan untuk jangka panjang. Dari situ nanti kesadara pribadi akan terbentuk secara alamiah… WAHHHH… kepanjangan…. POKOKNYA PERLU ADA PERUBAHAN!!!
Email : Ujang Tamara Date : Thursday, January 16, 2003
Oleh : Ujang Tamara
LANJUTTAN……..//// Dari sampah yg dibawa dibuat undian yg hadiahnya lumayan (Tas, Kaos, BeaSiswa.. dllnya..)/// Gua dech yg jadi sponsornya///Tolong sampaikan ke Pengelola. Jadi tidak perlu ditutup itu gunung yg indah. Biarin anak-2 pada naek, dan kembali dengan sampah-sampahnya. Khan bersih jadinya tuh gunung… Betul enggak !!!?
Email : Ujang Tamara Date : Thursday, January 16, 2003
Oleh : bocah AE
saya cuma mengasih tahu bahwa orang yang membuang sampah dialam, bukan seorang pecinta alam karena sudah tidak sesuai dengan kode etik pecinta alam, tindakan itu antara lain: 1. membuang sampah 2. perilaku vandalisme 3. mengambil sesuatu dari alam Pecinta alam yang sejati adalah orang yang menghidupi pecinta alam dan bukan orang yang mencari hidup di pecinta alam, serta prinsip. kita harus mengenal alam, dan bukan alam mengenal kita. Piye coy
Email : bocah AE Date : Friday, January 17, 2003
Oleh : Budi Mulyana
Lanjutin juga… Ditutupnya TNGP selama 3 bulan bukan berarti tak berpengaruh sama sekali. Mungkin ada sisi positifnya dan dalam hal ini mungki pihak TNGP, volunteer dan intansi yg terkait sudah memikirkan masak-masak. Dengan ditutup-nya TNGP secara financial merugikan pihak TNGP, karena berapa banyak dana yang hilang. Bila saja TNGP hanya bertujuan menarik untung, untuk apa ditutup yang jelas-jelas pemasukan akan semakin berkurang. Sekarang masalahnya, adakah diantara kita yang mau peduli dengan TNGP. Selama ini kita mungkin hanya bisa kasih ide dan kritik. Tanpa ada sumbangan nyata di lapangan. Mungkin banyak kendala yang hadapi TNGP dan volunteer, baik intern maupun extern. Sementara ini yang ikut aktif membantu pihak TNGP hanyalah volunteer (kebanyakan pemuda setempat). Volunteer sendiri telah berusaha semaksimal mungkin walaupun kadang untuk datang ke lokasi mereka merogoh kantong sendiri untuk transport dan makan. Saya salut dengan mereka masih ada rasa cinta dan peduli. Walaupun mungkin kontribusinya tidaklah besar, tapi setidaknya ada yang bisa mereka banggakan dan ini mungkin menjadi contoh buat kita, yang hanya bisa memberikan ide, saran dan kritik. Berapa banyak orang yang mau bersusah-susah seperti mereka? yang mau mengadikan dirinya tanpa imbalas sepeserpun. Semoga kita tidak hanya menjadi penonton saja yang hanya bisa teriak-teriak. Mudah-mudahan kita bisa menjadi pelaku dalam ikut menjaga dan memelihara kelestarian alam. Semoga…..
Email : Budi Mulyana Date : Friday, January 17, 2003
Oleh : Beno
Saya ingin menyampaikan beberapa faktor analisis mengenai keberadaan sampah di TNGP : 1.Faktor Mental/Kesadaran Manusia akan pentingnya keseimbangan alam kurang. Solusi : Diberikan penyuluhan terlebih dahulu mengenai konservasi Alam TNGP sosialisasi dapat diberikan lewat media elektronik dan Cetak ( nggak rugikan..??sesuailah sama pemasukannya jika TNGP mau mencoba untuk bersih. Ingat..!! jika kita membuang sampah dikawasan TNGP, maka sama saja kita mencemari air sungai yang masuk ke Jakarta, karena sumber mata airnya berasal dari gunung tersebut..!! 2. Faktor Event yang menyedot banyak publik dan tidak menyentuh masalah konservasi lebih baik tidak diadakan pada kawasan TNGP. ( Upacara HUT Kemerdekaan ) Solusi : Cari tempat lain yang lebih memadai untuk upacara. 3.Faktor Pengelola & Volunteer yang tidak profesional. Tidak mempunyai misi, visi yang jelas, yang penting bisa nongkrong, jaga gunung,bisnis basa-basi, ngilangin strees bagi diri sendiri. Solusi : – Berikan Pelatihan dan Penataran bagi Volunteer. – Adakan Screaning test untuk menjadi Volunteer Taman Nasional. Sebab saya sendiri bingung, asal mula volunteer dikawasan TNGP. Yang saya tahu sih, yang nongkrong paling lama digunung tersebut, maka dialah yang berkuasa..
Email : Beno Date : Sunday, February 09, 2003
Oleh : Budi Mulyana
Wah…. banyak sekali masukan yang positif dari rekan-rekan, dan itu sangat baik untuk lebih meningkatkan kerja pihak TNGP. Sayangnya kita lebih banyak menyudutkan pihak TNGP, Jagawa, Volunteer dan pihak terkait lainya. Volunteer terbentuk atas inisiatif kaum muda, khususnya masyarakat setempat yang ada rasa kepedulian dengan lingkungan-nya. Tanpa mendapat imbalan apa-apa mereka mau ikut membantu pihak TNGP. Mengapa tidak profesional? Kita sendiri tahu bahwa volunteer tidak mencari profit atau keuntungan yg bersifat materi. Mereka hanya menyumbangkan tenaga dan bahkan mengeluarkan uang sendiri untuk transport dan makan. Lebih bijak rasanya kalo kita ikut serta memberikan sumbangan yang nyata buat mereka. Yang hasilnya bisa langsung maupun tidak langsung dapat dirasakan. Kenali dulu permasalahan dengan baik (dgn cara lihat dilapangan dan tanyakan pada pihak-pihak terkait).
Email : Budi Mulyana Date : Wednesday, February 12, 2003
Oleh : handri
yang buang sampah di gunung entah gunung gede kek, pangrango kek atau mana aja POKOKNYA GUA KUTUK!!!! SUPAYA IDUNG ELO ELO SECARA PERMANEN PADA NGERASAIN BAGAIMANA BAUNYA SAMPAH DI TPA PULOGEBANG
Email : handri Date : Wednesday, July 30, 2003
Oleh : iie
iya! katanya kalian tu pecinta alam, tapi kok malah gak cinta lingkungan. malu atuh.. meski gw blm pernah naek gunung, tapi gw termasuk salah satu yang concern thd masalah lingkungan, termasuk sampah. makanya, gw suka sediih..kalo liat sampah bertebaran dimana2. kalo di pasar mgk masih bisa dianggap “wajar”. di kampus yang katanya berisi orang2 intelektual, hmmm…ah, lagi gak sadar kali! tapi di gunung yang jadi tempat maennya para PA… waduh, itu sih udah keterlaluan! gak konsisten dengan julukan yang disandang maupun yang sering digemargemborkan!
Email : iie Date : Thursday, October 30, 2003
Oleh : Budi Mulyana
Budaya… mungkin kata diatas berpengarus dalam kehidupan sehari-hari. Sulit sekali menerapkan sebuah kedisiplinan kepada masyarakat kita. Walaupun berulang kali mungkin kita ingatkan mereka utk selalu menjaga kebersihan, masih saja mereka membuang sampah sembarangan. Mungkin kita harus intropeksi diri dan menerapkan hidup bersih.
Email : Budi Mulyana Date : Monday, November 03, 2003
Oleh : APB
Selama gua naek gede.pasti nemuin yang namanya sampah mengunung.dari bungkus permen ampe tahi di jalur.mungkin PA udah ganti arti kali,jadi Perusak Alam.Emang ga mungkin bersih 100%.tapi minimal kelihatan bersih.ga kaya sekarang.udah sampah banyak,trus bau lagi.gua aja males kalo istirahat di Kd.Badak.disitu udah kaya WC.bau bgt.t`rus terakhir gua naek bulan november 2003,di surya kencana airnya bau Shampo.emang perut gua rambut.t`rus hari keduanya bau Gatsby.1 tahun lagi bisa2 bau Rinso kali.coba deh sadar dikit.minimal bawa sampah punya sendiri.lama2 bersih kok.apa lagi yang buang hajat di jalur.sadar dikit lah.di pojokan ke biar ga ke injek.loe tau sendiri baunya gimana.bikin mo muntah.apalagi udah bau t`rus ada kangkung or cabenya.uweeekk….!bisa kejang2 loe ngeliatnya.Mudah2an para PA bisa bener2 jadi Pencinta Alam.biar gede pangrango nyaman.walaupun kaga kaya dirumah.Oh iya!buat para Ranger2 di TNGP yang katanya Pencinta Alam.sering2 kontrol dong ke atas.jangan gagah2an doang jadi renger.mendingan loe jadi Power Ranger aja kalo kerjanya meriksain cariel yang naek ama yang turun.liat tuh di Pos air panas.udah kaya hotel.ada yang mandi pake shampo ampe creambat ama luluran kali.dari pada loe di bawah aja.Udah peraturannya banyak.sampah banyak juga.SALAM BUAT PA2 YANG JOROK.biar cepet2 SADAR.entar kalo anak loe naek gede gimana?masa dia mo ngeliat fosil tai bapanya.
Email : APB Date : Wednesday, December 10, 2003
Oleh : Budi Mulyana
Bila kita hanya bisa mencari kambing dan saling menyalahkan, maka persoalan ini sampai kapanpun tak akan pernah berakhir. Mungkin semua masalah sedikit banyak bisa dikurangi bila masing-masing pribadi sadar akan hak dan kewajibannya kepada alam ini. Mari kita mulai perbaikin tingkahlaku kita terhadap alam, dimulai dari diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan kebiasaan yang baik menjadi sauri tauladan kita semua. Semoga kita termasuk orang-orang yang mau intropeksi diri dan mau berubah untuk hal-hal yang positif, amin.
Email : Budi Mulyana Date : Friday, December 12, 2003
Oleh : Budi Mulyana
Sebenarnya saat akan pendakian bukankah sudah diberikan pengarahan dari Jagawana atau volunteer tentang yang dilarang untuk dibawa mendaki, seperti odol, sabun, shampoo, spidol dll yang bisa mencemarkan alam ini. Apakah harus dengan kekerasan utk melakukannya? Tentu saja tidak. Semuanya berpulang pada pribadi pendaki itu sendiri.
Email : Budi Mulyana Date : Tuesday, December 16, 2003
Oleh : TOWAC
Aa BM mungkin ada baiknya profesionalisme ranger ,voulentir ditingkatkan dan dievaluasi secara periodik. Dengan evaluasi yang berkala tentu akan meningkatkan kinerja,iya nggak?mungkin karena banyaknya pend pemula dan ngeliat alam yang kotor mereka juga ikutan kotor,”wong udah kotor kok ngapain bawa sampah turun” gitu pikir mereka !!bersih gunung yang telah dilakukan selama ini banyak bermanfaat,dengan lingkungan yang bersih, diharapkan mereka yang mau buang sampah jadi enggan…juga buat sahabatku PA sejati,ketuk hatimu tuk iktu partisipasi menjaga alam ini.Hati kecil kita pasti mendukung, tinggal KUATKAN TEKADMU amiiiin……
Email : TOWAC Date : Sunday, December 21, 2003
Oleh : Budi Mulyana
Iya benar sekali apa yg dikatakan rekan Towac, harusnya sumber daya manusia-nya pun ditingkatkan, itu salah satu point yg terpenting. Selama ini volunteer berusaha utk hal seperti itu, namun kurangnya SDM dan juga partisipasi dari pihak lain membuat mereka sulit utk berkembang. Kalo kita terjun langsung mungkin kita bisa melihat masalah-masalah yg dihadapi. Karena banyak hal terkait yg membuat semua ini seolah hanya jalan ditempat. Partisipasi rekan-rekan semua sangat menentukan juga. Jangan pernah mengandalkan orang lain.
Email : Budi Mulyana Date : Wednesday, December 24, 2003
Oleh : TOWAC
Sebenarnya kendalanya mungkin pada dana kali ya …?karena dimana2 profesionalisme itu hubungannya erat sekali dengan dana yang disediakan,seperti polisi contoh concretenya!!!gmn mau proesional kalo dana buat kegiatan jaga aja kurang,sepertinya mereka jd ogah n males….artinya apa,kegiatan yang selama ini dilaksanakan cuma sebatas pada kerelaan n keikhlasan para voulentire, besar kecenderungannya jalan ditempat.Mungkin kalo dana buat para penjaga dianggarkan sesuai dengan “”kebutuhan “akan menjadi lain ceritanya….dana yang selama ini di dapt dari posko pendakian mungkin kurang, tapi mungkin ada cara lain seperti dari sponsor mungkin bisa di”mainkan”….atau dengan mengadakan event tertentu, mungkin ceritanya bisa lebih romantis n aduhai??? gmn tuh….jd DANA KALI YEEEE?????
Email : TOWAC Date : Wednesday, December 24, 2003
Oleh : Budi Mulyana
iya benar sekali. Profesional = uang. Volunteer = suka-rela, idealis. Jadi sulit sekali cari orang yg idealis saat ini. Atau setidaknya ada rasa peduli dan tanggung jawab terhadap alam ini.
Email : Budi Mulyana Date : Monday, January 05, 2004
Oleh : joeitem
waaaa ketinggalan jauhhhh orang dah ngomongin kandang badak gue baru mau start di cibodas.syialll btw gue mau ikutan kalau ada opsih di g.gede(kalau ada waktu).jgn lupa undang yakk,
Email : joeitem Date : Monday, March 15, 2004
Oleh : sonni silalahi ( Tambun )
Kalo menurut saya itu kembali lagi kepada moral anak yang berkunjung kesana , kalo dalam Astra disebut ( Basic Mentality ) jika seorang yang bijak ga mungkin buang sampah / sisa sampah disembarang tempat . saya rasa pada saat check-in ke Gn. Gede harus di cek seluruh bawaa yang mereka simpan di tas masing2. okeeh
Email : sonni silalahi ( Tambun ) Date : Saturday, April 17, 2004
Oleh : puput
klo mnurut gw…yang daki Gn.Gede kan bukan cuma para pencinta alam yang tau gimana cara “bersikap” di alam…so para pendaki amatiran yang g bener2 cinta ma alam, mreka itulah yang mjd sumber utama tragedi sampah di TNGP…mreka kan tujuannya cuma sekedar naik gunung doang…jadi masalah sampah diabaikan gitu aja ma mreka… makanya kita2 yang ngerti gimana “bersikap” di alam, harus punya kesadaran yang tinggi untuk ngurangin sampah2 itu… gmn klo ANAK-ANAK PA SEKOLAH diajak gabung untuk ikut operasi sapu gunung di TNGP… sekalian nambah pengalaman mreka, juga biar generasi muda itu lebih tinggi rasa kesadaranya untuk alam…
Email : puput Date : Monday, April 26, 2004
Oleh : Budi Mulyana
Volunteer TNGP sendiri (Panthera, GPO, Montana, Eagle, dll) merasa welcome dan berterima kasih bila ada rekan2 yang sudi berkunjung dan bermain ke sekretariat, sambil berbagi pengalaman dan mengikuti aktifitas para volunteer / jagawana disana. Silahkan datang dan bermain…
Email : Budi Mulyana Date : Tuesday, May 04, 2004
Oleh : Tri Wahyudi
daripada kita saling tuding,ada yang punya solusinya nggak..?
Email : Tri Wahyudi Date : Thursday, May 06, 2004
Oleh : mlee
walaupun aku baru sekali ke gunung gede..kayanya aku bisa liat kalo gunung gede sekarang udah jadi gunung sampah dech! aku setuju banget sama kegiatan opsih..tapi percuma aza, apalagi kalo slogan “LEAVE NO TRACE” selama ini cuma dijadiin slogan doank…ga ada realisasinya sama sekali!!! kayanya sich, kegiatan opsih di gunung gede, harus diadain setiap hari kali yee..biar gunung gede tetep bersih! ![]()
Email : mlee Date : Monday, September 20, 2004
Oleh : mhoezay
biar sampahnya banyak kan kita udah bayar gue kesel ama aparat n petugas TNGP nya kaya ga percaya ama kita ngadain opsih aja susah yang harus kita pertanyakan kepada mereka duitnya lari kemana apa alasan penghijauan yang di canangkan oleh mereka masuk akal kita semua sedih dengan keadaan gunung gede kita ingin berbuat tapi susahnya setengah ampun apa kita perlu berdemo untuk menuntut hak kita yang telah dirampas oleh ambisi mencari duit oleh mereka kita punya hak kerena gn gede milik bangsa bukan milik penduduk atau aparat yang gila hormat dan duit
Email : mhoezay Date : Tuesday, September 28, 2004
Oleh : Mlee
Mau tanya donk! Kapan sieh opsih di gunung gede tahun ini?
Email : Mlee Date : Tuesday, September 28, 2004
Oleh : Budi Mulyana
Mengadakan Opsih atau sekedar pendakia biasa, prosedurnya sama dan tetap harus dipatuhi, tak ada perbedaan. Bila kita berniat baik dan tulus serta ada rasa untuk menjaga kelangsungan hidup alam ini harusnya bisa mengerti dan memahami, bahkan mungkin mendukung upaya2 yg positif, memang masih banyak kelemahan2 yg ada, tapi bukan berarti kita hrs memaki, mengutuk dll. Tapi kita hrs memberikan masukan2 yg positif. HAK…kenapa kita selalu menuntut hak kita yg belebihan yg terkadang hanya mengikuti nafsu dan ke-egoisan kita. Mana KEWAJIBAN kita yang menyelaraskan hidup ini. Ada hak dan kewajiban, dan itu harus berjalan beriringan. Mengenai dana yg di dpt dari pengunjung, sebaiknya bisa ditanyakan langsung pd pihak TNGP agar kita tau duduk persoalannya sehingga tak banyak fitnah ataupun negative thinking. Kenapa kita selalu terburu2 utklberburuk sangka utk hal2 seperti ini???? Bagaimana kita bisa memecahkan sebuah masalah bila kita sendiri hanya bisa melontarkan amarah kita kepada mereka???
Email : Budi Mulyana Date : Tuesday, October 19, 2004
Oleh : syamsudin wijaya ( SIGURA )
SAMPAH DI SANA MEMANG SANGAT BANYAK SEKALI,TAPI PERLU SAUDARA INGAT .USAHA SAUDARA SANGATLAH BAIK SEKALI DALAM OPERASI2x YANG TELAH SAUDARA 2x LAKUKAN,TAPI AKAN MENIMBULKAN KESAL DARI PARA PENDAKI DAN MUNGKIN MEREKA AKAN MELAKUKAN HAL2x YG MALAH MEMBAHAYAKAN ALAM KITA TERCINTA.INGAT MASIH BANYAK ORANG BEJAD DI DUNIA INI YANG TIDAK MENGHARGAI ALAM.KENAPA SEMUA SUKARELAWAN DI tngp TIDAK BERSATU DAN MENGATASINYA ANTARA MONTANA,IGR,PANTERA,DLL, BUANYAK BUKAN KENAPA MALAH NGAK AMAN.
Email : syamsudin wijaya ( SIGURA ) Date : Monday, December 13, 2004
Oleh : kake
Oi….BERSATULAH !!!! WAHAI PARA SAHABAT ALAM MENGAPA ENGKAU MERUSAK ALAM,APAKAH ENGKAU LUPA DIMANA ENGKAU TINGGAL DAN DIMANA ENGKAU LAHIR ???? BERSATULAH WAHAI PECINTA ALAM INDONESIA TUJUAN KALIAN SAMA JANGAN MAIN EGOOO…DI ALAM NGAK ADA YANG JAGOOO. SALAM RIMBA,SALAM PERSATUAN DAN SALAM PERDAMAIAN..
Email : kake Date : Wednesday, December 22, 2004
Oleh : SHEGOENG CAANG VP
masalah yang ada ditaman nasional bukan hanya sampah belaka tetapi masih banyak yang harus diselesaikan untuk itu para relawan TNGP membutuhkan bantuan dari kita2 penikmat alam agar mau sama2 ngejaga arena tempat kita bermain.untuk menjaga agar TNGP tetap bersih diperlukan kesadaran dari kita2 sebagai penikmatalam. memulainya dari lingkungan sekitar kita, kalau kita sebgai penikmat alam ga bisa ngejaga lingkungan sekitar kita bagai mana TNGP mau bebas dari sampah. sadarilah bahwa semakin lama TNGP akan menjadi gunung sampah kalau kita sebagai penikmat alam ga pernah menyadari betapa pentingnya alam.
Email : SHEGOENG CAANG VP Date : Saturday, January 08, 2005
Oleh : Budi Mulyana
Betul sekali apa kata rekan kiya SHEGOENG, TNGP bukan hanya tanggung jawab Balai TNGP, Jagawana dan volunteer, tapi juga tanggung jawab kita semua. Tidaklah bijak dan tidak pula adil membebani tanggung jawab secara sepihak kepada mereka. Apa yang mereka lakukan tak akan ada gunanya tanpa bantuan dan partisipasi kita dalam menjaga kelestarian alam TNGP. Jangan pernah mengandalkan sesuatu pada orang lain, apalagi menyalahkan atas apoa yg telah terjadi, karena secara langsunmg maupun tidak langsung kita turut andil dalam perusakan. Untuk itu kita pun mempunyai tanggung jawab utk ikut melestarikannya.
Email : Budi Mulyana Date : Monday, January 10, 2005
Oleh : TOWAC
sodarku tercinta,bisa nggak KALO LIAT SAMPAH KITA PUNGUT DAN TARUH DITEMPATNYA..mulai dari diri kita yuuuk…
Email : TOWAC Date : Saturday, February 19, 2005
